Jalanan ibukota dan sejumlah wilayah lainnya sempat membara. Kemarahan publik yang tak terbendung tumpah ruah di ruang-ruang publik. Demonstrasi besar-besaran yang pada awalnya diniatkan sebagai panggung aspirasi suci nan mulia, mendadak berubah menjadi arena luapan emosi yang lepas kendali. Fasilitas umum hancur lebur. Objek vital negara, termasuk markas kepolisian seperti Mako Brimob Polda Metro Jaya, tak luput dari sasaran amuk massa. Kaca-kaca pecah, api menyala di tengah jalan, dan aparat serta warga saling berhadapan dalam ketegangan yang mencekam.

Bagi sebagian orang, kemarahan massal ini mungkin bisa dipahami. Ada duka, amarah, dan kekecewaan mendalam atas insiden tragis yang merenggut nyawa Affan Kurniawan. Peristiwa pilu tersebut seolah menjadi pemantik api bagi tumpukan jerami kering kekecewaan rakyat terhadap sistem yang ada. Namun, di tengah hiruk-pikuk dan kepulan asap ini, sebuah pertanyaan besar harus kita lontarkan bersama: Apakah aksi perusakan ini akan membawa kita pada kemenangan, atau justru mengaburkan esensi perjuangan yang sebenarnya?

Suara Akal Sehat di Tengah Pusaran Anarki

Di tengah pusaran anarki dan kebingungan arah inilah, suara akal sehat harus kembali dikumandangkan dengan lantang. Sahabat Polisi Indonesia (SPI), sebuah elemen masyarakat yang konsisten peduli pada ketertiban dan penegakan hukum, angkat bicara dengan nada prihatin yang sangat mendalam. Mereka hadir bukan untuk membungkam suara kritis rakyat yang sedang menggema, melainkan untuk mengingatkan kembali arah kompas perjuangan kita semua.

Sahabat Polisi Indonesia Serukan Setop Perusakan, Kembali ke Tuntutan Rakyat!

Ketua Umum Sahabat Polisi Indonesia, Fonda Tangguh, menyuarakan sebuah imbauan krusial yang patut direnungkan oleh setiap demonstran dan seluruh elemen masyarakat. “Mari bersama-sama menahan diri. Mari menjaga kantor polisi dari tindakan para perusak,” tegas Fonda dalam keterangannya kepada awak media pada Minggu (31/8/2025) siang.

Pesan ini bukanlah sekadar untaian retorika kosong, melainkan sebuah alarm pengingat. Kantor polisi adalah fasilitas milik negara yang dibangun dari keringat dan pajak rakyat, yang pada akhirnya diperuntukkan bagi pelayanan dan keamanan rakyat itu sendiri. Menghancurkannya sama halnya dengan merugikan diri kita sendiri dan masa depan keamanan lingkungan kita.

Jangan Sampai Perjuangan Dibajak, Kembali ke Tujuan Awal!

Sebagai masyarakat yang cerdas dan melek politik, kita harus berani menatap cermin dan bertanya: apa sebenarnya tujuan awal kita turun ke jalan berpanas-panasan?

Fonda Tangguh mengingatkan kita semua dengan sangat tajam dan presisi. Demonstrasi ini awalnya bukan tentang siapa yang bisa melempar batu paling jauh, atau siapa yang bisa merobohkan pagar paling cepat. Gerakan ini lahir dari rahim keresahan atas ketidakadilan struktural yang menggerogoti negeri.

“Kita semua harus kembali meluruskan niat awal melakukan demonstrasi kemarin: menghapus kebijakan tunjangan Anggota DPR dan mengesahkan RUU Perampasan Aset,” ucap Fonda mengingatkan.

Tujuan kita sangat jelas, tegas, dan terukur. Pertama, menuntut penghapusan kebijakan pemberian tunjangan fantastis bagi anggota DPR di tengah himpitan ekonomi rakyat yang semakin sulit. Kedua, mendorong dengan keras agar RUU Perampasan Aset—sebuah senjata pamungkas untuk memiskinkan para koruptor dan mengembalikan uang negara—segera disahkan oleh wakil rakyat yang terhormat tanpa ditunda-tunda lagi.

Bayangkan sejenak. Di saat massa rakyat sedang berjibaku dengan debu jalanan, bentrokan, dan asap gas air mata, para oknum elit politik yang kepentingannya terancam oleh RUU Perampasan Aset mungkin sedang duduk santai menikmati kopi. Mereka justru berharap agar kekacauan ini terus berlanjut sehingga publik lupa menagih janji pengesahan undang-undang tersebut. Apakah kita mau dua agenda raksasa ini lenyap ditelan berita vandalisme?

Ketika kita merusak fasilitas umum, kita justru sedang memberikan ‘amunisi gratis’ kepada mereka yang anti-perubahan. Mereka akan menggunakan alasan keamanan untuk mendiskreditkan kemurnian gerakan demonstrasi yang sudah dibangun susah payah.

Transformasi Duka Menjadi Energi Politik yang Rasional

Tentu saja, kita tidak bisa serta-merta mengabaikan bahwa ada luka menganga di hati masyarakat akibat insiden kematian Affan Kurniawan. Atmosfer emosional pasca-kejadian tersebut adalah reaksi psikologis yang wajar. Namun, Fonda Tangguh mencermati bahwa perlahan namun pasti, gelombang emosi yang membara itu mulai mereda.

Kini, rasa duka yang mendalam harus segera ditransformasikan menjadi energi politik yang rasional, bukan energi destruktif. Perusakan kantor polisi oleh segelintir oknum—yang seringkali ditunggangi oleh provokator tak bertanggung jawab—hanya akan memecah belah solidaritas. Polisi di lapangan adalah anak-anak bangsa yang sedang menjalankan tugas. Di balik seragam dan tameng mereka, ada ayah, anak, dan saudara kita sendiri.

Oleh karena itu, ini adalah seruan persuasif bagi kita semua—para mahasiswa, kaum buruh, aktivis, dan seluruh elemen masyarakat sipil. Mari rapatkan barisan dan kunci rapat pergerakan dari para penyusup pembawa provokasi. Jika ada massa yang mulai bergerak menuju tindakan anarkis terhadap fasilitas umum, jadilah suara mayoritas yang berani meneriakkan: “Tahan! Itu bukan musuh kita! Fokus kita ada di kebijakan Senayan!”

Perjuangan politik yang sukses membutuhkan nafas panjang, taktik yang elegan, dan simpati publik yang masif.

Sudah saatnya kita membuktikan bahwa gerakan rakyat Indonesia adalah gerakan yang beradab, cerdas, dan bermartabat. Mari tunjukkan kepada para pengambil kebijakan bahwa konsentrasi kita tidak akan pernah terdistraksi. Kita akan terus mengawal penghapusan tunjangan hedonis pejabat dan mendesak pengesahan RUU Perampasan Aset hingga tuntas, tanpa harus memecahkan satu keping kaca pun.

Sebab kemenangan sejati tidak diukur dari seberapa hancur markas aparat penegak hukum, melainkan dari seberapa tangguh kita memaksa sistem untuk berpihak pada keadilan sosial. Tahan diri, jaga fasilitas publik, dan mari kembali fokus pada tujuan utama!

Sumber: Inews

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *